FENOMENA FEAR OF OTHER PEOPLE'S OPINIONS (FOSO) DI INDONESIA



Fear of other people's opinions (FOSO) adalah ketakutan terhadap apa yang orang lain pikirkan tentang kita, ketika kita melakukan atau mengatakan sesuatu. Meskipun nampak sepele, namun fenomena ini bisa mengganggu aktifitas sehari-hari bahkan dapat menimbulkan efek melumpuhkan bagi banyak orang.

Apalagi jika menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu hanya karena kita takut apa yang orang lain pikirkan tentang kita, berarti kita membatasi dunia pada gagasan orang lain, tentang apa yang seharusnya dilakukan. Kata Jane Ellis pada artikel FOSO or Fear Of Other People's Opinions.

Kita selalu merasakan khawatir dengan apa yang dipikirkan orang lain dan kita selalu menyesuaikan diri atau bermain aman untuk menghindari resiko penilaian orang, itu sangat wajar dan semakin cepat kita mengubah hubungan kita dengan pikiran orang lain, maka akan semakin cepat kita bebas menjadi diri sendiri. Kata Michael Gervais, Ph.D.Psikolog dan penulis The First Rule Of Mastery : Stop Worry About What People Think Of You.

Ketakutan terhadap orang lain atau FOSO sebagaimana Gervais menyebutnya, memiliki banyak hal. Hal ini membuat kita terjebak dan merasa kecil, namun ada alasan biologis dan sosial yang mendasarinya. Otak kita dirancang untuk bertahan hidup dan terus menerus memindai lingkungannya untuk menemukan semua hal yang berpotensi berbahaya. 

Untuk bertahan hidup, otak menjadi selaras dengan penerima dan menciptakan psikologi yang terus menerus berusaha menyesuaikan diri. Pengalaman sosial juga memicu mekanisme kuno Fight - Flight - Freeze di otak.

Misalnya saja media sosial telah membuat kehidupan kita lebih bersifat publik dibandingkan sebelumnya, sehingga memberikan lebih banyak peluang bagi otak untuk mempersiapkan diri menerima umpan balik.

Media sosial menjadi salah satu pemicu bagi kita mengalami FOSO. Melalui media sosial ini pendapat orang semakin terbuka, imagenya terbuka, meskipun ada beberapa orang memang mempunyai kecenderungan selalu khawatir dengan pendapat orang sejak dulu.

Namun, ketakutan tersebut bisa menjadi obsesi yang tidak rasional, tidak sehat dan tidak produktif, yang akhirnya FOSO menjadi penghambat terbesar bagi potensi diri.

Orang yang mengalami FOSO bukan menghindari opini negatif dari seseorang terhadap dirinya melainkan adanya rasa takut terjadap opini tersebut, kita jadi cenderung lebih mementingkan pendapat orang lain tentang dirinya dibandingkan pendapat kita sendiri. Umumnya FOSO terjadi ketika seseorang belum memiliki kesadaran terhadap identitas dirinya.

Rata-rata orang Indonesia yang mengalami FOSO akan merasa takut jika dinilai jelek, salah dan gagal.

Cara Mengatasi FOSO 

1. Dengarkan Pendapat Orang Yang Mengenal Kita.

Memilah pendapat orang lain tentang kita bisa dilakukan untuk mengatasi FOSO.

Pedulikan pendapat dari 2 kelompok menurut Garvais yaitu :

● Orang-orang yang benar-benar mengenal dan peduli pada kita.

● Orang-orang yang menemani kita di masa sulit.

Pendapat siapapun diluar kelompok tersebut tidak perlu dianggap terlalu penting, pendapat yang penting bagi kita adalah mereka yang telah membuat komitmen mendasar untuk peduli kepada kita, terang Gervais dilansir dari Fast Company.

2. Latihan Pernapasan.

Latihan pernafasan dan Self Talk dengan membuang napas panjang jika kita mulai merasakan gejala FOSO, disaat yang sama Gervais menyarankan agar kita mengatakan narasi berikut kepada diri sendiri.

"Saya ingin menonjolkan diri saya yang jujur, saya tidak akan berikan pada apa yang mungkin mereka pikirkan tentang saya"

 3. Bercengkraman Dengan Orang Yang Bijaksana.

Berbicara dengan orang lain yang dianggap bijaksana, bisa juga mencegah munculnya FOSO, karena mereka mempunyai pemahaman mendalam tentang cara kerja sesuatu, bisa dengan psikolog, pelatih atau keluarga yang lebih tua.

4. Identitas Berbasis Kinerja.

Gervais mengatakan, identitas berbasis kinerja dimaksudkan sebagai ekspresi dan bukan definisi tentang siapa kita. Orang-orang yang fokus pada tujuan dan bukan pada kinerja saja akan bebas dari pendapat orang lain, karena tujuan tersebut sangat penting sehingga sangat berarti bagi mereka ujurnya. Pendapat orang lain tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan intensitas suatu tujuan yang penting.

Mengapa Ini Penting 

Meskipun FOSO adalah mekanisme yang membuat kita tetap aman, FOSO juga merupakan mekanisme yang membuat kita tetap kecil, kata Gervais. Ini adalah upaya menyeluruh untuk mencoba menafsirkan apa yang dipikirkan orang lain untuk menghindari penilaian negatif dari orang.

Jika kita hanya selaras dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain, berarti kita menjalani hidup dengan cara orang lain dan bukan cara kita sendiri. FOSO merupakan antisipatif artinya terjadi sebelum interaksi dengan orang lain terjadi, kata Gervais. Ini adalah kekhawatiran yang berlebihan, bukan tentang apa yang mungkin orang lain pikirkan tentang kita. Ini adalah salah satu penghambat terbesar potensi manusia. Hal ini menghalangi kita untuk bersikap jujur atau autentik serta mengedepankan diri kita yang terbaik.







Komentar

fanny_dcatqueen mengatakan…
Setuju Ama cara yg ditulis, dengar pendapat dari orang2 yg terdekat dengan kita saja, dan yg mengenal kita. Pendapat orang lain yg diluar itu, apalagi ga kenal kita sebenarnya, skip. Ga penting....

Untuk mencegah foso, aku ajarin anak2ku untuk confident dalam menghadapi dan melakukan sesuatu. Ini susah2 gampang memang. Sebisa mungkin diajari saat mereka kcil agar terbiasa confident. Salah satunya, aku biasa tanya pendapat mereka ttg apapun. Memilih sesuatu juga based on keinginan mereka, bukan paksaan dari kita.

Jadi anak2' terbiasa mengungkapkan apa yg mereka mau dan opini mereka sendiri.

So, semoga aja bisa terhindar dari Foso ini

Postingan populer dari blog ini

BELANJA ONLINE DI FELANCY SEBAGAI BENTUK SELF LOVE

PELUANG MENCARI PENGHASILAN SEBAGAI CONTENT CREATOR HANDAL BERSAMA REVU

BIJAK MERENCANAKAN KEUANGAN DAN CARA MENDAPATKAN PENGHASILAN TAMBAHAN MELALUI REFERRAL PROGARAM TUNAIKU AMAR BANK